Panama, Negara Kecil yang Siap Melawan Inggris dan Belgia di FIFA 2018

Panama, Negara Kecil yang Siap Melawan Inggris dan Belgia di FIFA 2018

Perjalanan Panama hingga bisa bertanding di Piala Dunia FIFA 2018 dimulai saat negara yang berada di Amerika Latin tersebut berhasil membobol gawang Rostar Rica pada pertandingan yang diselegarakan di Estadio Rommel Fernandez.

Gol tersebut berhasil dicetak oleh Roman Torres. Keberhasilannya tersebut ia rayakan dengan merobek bajunya dan memutar-mutarnya di sekitar kepalanya.

Para pelatih dan pemain pengganti berlari dan tumpah ruah di bagian touchline. Para pemain saling melakukan tos untuk merayakan kemenangan mereka.

Di teve-teve Panama, disiarkan para pendukung yang berteriak dan berkoor “goool” dan menjadi momen paling mengharukan dan menawan yang pernah disiarkan oleh stasiun televisi Panama.

Flare merah hingga kembang api dinyalakan ketika kemenangan menuju FIFA 2018 berhasil diraih oleh Panama untuk pertamakalinya. Di ajang piala dunia mereka yang pertama, Panama bakal melawan Belgia pada tanggal 18 Juni 2018.

Pesta kemenangan tersebut dirayakan secara besar-besaran di Panama. Orang-orang mengadakan pesta. Bahkan Presiden Panama Juan Carlos Varela menetapkan hari libur nasional dan meerintahkan kepada setiap pemilik usaha yang tetap buka pada hari libur nasional yang telah ditentukan untuk membayar 50 persen uang lembur kepada para karyawannya.

Kecuali untuk mereka yang bekerja di Terusan Panama dan bekerja untuk pasien kemoterapi yang mesti melanjutkan sesi kemoterapi dan tidak dapat dihentikan.

Blanca Navaro, seorang jurnalis TV Panama mengatakan bahwa kemenangan tersebut membuat Torres seolah-olah telah menjadi Tuhan untuk seluruh warga Panama.

Di balik banyaknya ketakutan dan kecurigaan terhadap FIFA 2018 yang bakal diselenggarakan di Rusia; momen kemenangan Panama ini kembali mengingatkan potensi murni dari olahraga; kemampuan yang dapat membuat orang-orang tersenyum dan potensi yang dapat dicapai dengan semanagat dan ambisi yang besar.

Sepak bola negara ini baru saja lepas landas. Meski kemenangan tersebut dirayakan secara besar-besaran, pada mulanya pertandingan yang diadakan di stadion dengan kapasitas 32.000 orang itu dipenuhi oleh para pendukung Costa Rica.

Tidak banyak warga negara Panama yang hadir untuk mendukung tim nasional mereka.

Gary Stempel, pelatih blasteran Panama-Inggris mengatakan bahwa pada pertandingan itu hanya ada sekitar 150 warga Panama yang hadir untuk mendukung tim nasional mereka.

Stempel mulai melatih tim U22 Panama pada tahun 1996. Ia menyebutkan bahwa kondisi sepak bola negara tersebut sangatlah miskin dan terpuruk. Para melalui masa yang sulit untuk dapat mencapai Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.

Ia menambahkan bahwa fasilitas yang mereka miliki sangatlah buruk. Tidak ada hujan selama mereka berlatih. Tidak selayaknya lapangan sepak bola pada umumnya, para pemain Panama berlatih di kerikil dan lumpur. Bahkan Stempel harus membeli beberapa bola tambahan dari uang pribadinya.

Ia juga menambahkan para pemain Panama tidak menggunakan sepatu sepak bola saat berlatih, mereka menggunakan bot yang bahkan telah berlubang.

“Beberapa pemain akan bertanding di Rusia pada musim panas. Sementara itu kami tidak memiliki pendingin air.  Jadi kami akan meminjam beberapa ember dari gereja lokal sebelah.”

Stempel juga menceritakan pengalaman pahit yang pernah ia lalui bersama tim sepak bola Panama.

Ia mengatakan bahwa pada tahun 1996 ia berhasil membawa tim nasional Panama memenangkan pertandingan melawan Costa Rica  yang diadakan di Honduras dengan poin 1-0. Namun pemain Panama mendapatkan penalti dan kiper mereka diusir.

Stempel akhirnya menemui wasit, tetapi penduduk Honduras melemparkan air kencing kepada wasit yang pada mulanya Stempel kira itu adalah bir. Air kencing tersebut meski dilemparkan pada wasit juga mengenai tubuhnya.

Kepahitan yang dilalui oleh  para pemain Panama tidak hanya berhenti sampai di situ. Para pemain itu hidup dalam kemiskinan yang parah, banyak dari mereka yang tinggal digubuk, tidur dalam satu kamar untuk beberapa orang, sehari bisa jadi hanya makan satu kali, dan terdapat ayah muda di sana dengan usia 15 dan 16 tahun.

Stempel berkata bahwa beberapa pemain yang pernah ia latih akan segera mengambil bayaran tunai mereka pada hari bayaran agar bisa membeli makanan untuk anak-anak mereka.

Namun kini Panama telah berubah. Negara tersebut tak lagi semiskin dan seterpuruk itu. Ekonomi Panama kini melesat tinggi begitu pula dengan sepak bola mereka. Sebagai negara yang pernah tidak sanggup memberikan fasilitas apa-apa untuk tim sepak bola nasionalnya, kini Panama berhasil maju ke Piala Dunia FIFA 2018 dan siap untuk melawan Belgia dan Inggris.

Updated: March 23, 2020 — 10:36 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Indonesia4D